Minggu, 27 Mei 2012

rindu

aku rindu dengan sunyi itu..
aku rindu dengan nyanyian pilu..
yang setia menemani disetiap hariku..
yang selalu hadir tuk menghiburku..
kaulah kesunyian terindah..
yang selalu abadi dan selalu ku nanti..

ku temukan satu titik putih

ku temukan satu titik putih itu..
dalam kubangan kelam yang gelap gulita...
terlintas banyak kata tuk ungkap semuanya..
tapi apa daya tak bisa berkata..
hanya bisa terucap dalam dada..
kaulah permata ku yang indah..
yang selalu bersinar di setiap sudut kelam ku..

Minggu, 13 Mei 2012

Those Winter Sundays

Sundays too my father got up early
and put his clothes on in the blueblack cold,
then with cracked hands that ached
from labor in the weekday weather made
banked fires blaze. No one ever thanked him.

I’d wake and hear the cold splintering, breaking.
When the rooms were warm, he’d call,
and slowly I would rise and dress,
fearing the chronic angers of that house,

Speaking indifferently to him,
who had driven out the cold
and polished my good shoes as well.
What did I know, what did I know
of love’s austere and lonely offices?
 
by:  Robert Hayden
 
 
Robert Hayden, “Those Winter Sundays” from Collected Poems of Robert Hayden, edited by Frederick Glaysher. Copyright ©1966 by Robert Hayden. Reprinted with the permission of Liveright Publishing Corporation.

Source: Collected Poems of Robert Hayden (Liveright Publishing Corporation, 1985)

Selasa, 08 Mei 2012

Reuben Bright



Reuben Bright
By: Edwin Arlington Robinson 
Because he was a butcher and thereby 
Did earn an honest living (and did right),
I would not have you think that Reuben Bright
Was any more a brute than you or I;
For when they told him that his wife must die,
He stared at them, and shook with grief and fright,
And cried like a great baby half that night,
And made the women cry to see him cry.
And after she was dead, and he had paid
The singers and the sexton and the rest,
He packed a lot of things that she had made
Most mournfully away in an old chest
Of hers, and put some chopped-up cedar boughs
In with them, and tore down the slaughter-house.


Senin, 30 April 2012

penantian

terdiam sepi berselimut pilu..
berharap kau hadir membawa tawa..
berharap kau hadir membawa cerita suka..
berharap kau bisa hapus kelabu itu..
tapi itu hanya harap..
harap yang menggebu tapi semu..
kau adalah kau..
dan aku yang selalu menanti semua itu..

Dengar Bisikku


Kadang aku berfikir
Dapatkah kita terus coba
Mendayung perahu kita
Menyatukan ingin kita

Sedang selalu saja
Khilaf yang kecil mengusik
Bagai angin berhembus kencang
Goyahkan kaki kita

Genggam tanganku jangan bimbang
Tak usahlah lagi dikenang
Naif diri yang pernah datang
Jadikan pelajaran sayang

Dengar bisikanku oh dinda
Coba lapangkan dada kita
Terima aku apa adanya
Jujur hati yang kita jaga

Mengapa selalu saja
Khilaf yang kecil mengusik
Bagai ombak yang besar
Goyahkan kaki kita

Bila gundahmu tak menghilang
Hentikan dulu dayung kita
Bila kau ingin lupakan aku
Ku tak tahu apalah daya


by: The Rain

disudut sepi

 

ku termenung dalam satu sudut sepi..
di tepian malam yang kian terurai..
dingin yang ku rasakan kian menjadi..
tanpa hadir dirimu disisi..
hangatmu adalah harapku..
setiamu adalah surgaku..
kau adalah permatahatiku..